Candi Borobudur Part 4 : Relief

Candi Borobudur terpahat panel panel ukir yang sangat detail dan halus penggrapannya, kecuali pada bagian arupadhatu. Relief Borobudur bergaya naturalis dan indah. Dengan gaya seni rupa India, bentuk dewa dan dewi, bidadari, pertapa ataupun bodhisattva digambarkan dengan posisi tubuh tertentu.

Selain menampilkan berbagai sosok manusia, di Candi Borobudur juga tergambar berbagai aspek yang ada di Pulau Jawa, seperti rumah panggung, lumbung, istana, candi, perhiasan, alat music, persenjataan, busaa, tumbuhan, binatang, alat transportasi. Salah satu yang paling popular ialah relief yang menggambarkan Kapal Borobudur yang telah dibuat replikanya dan kini tersimpan di Museum Samudra Raksa yang lokasinya di area Candi Borobudur.
Relief Candi dibaca searah jarum jam atau dikenal dengan istilah Pradaksina. Relief berserita mengenai suatu cerita tertentu, dimulai dari sebelah kiri pintu gerbang dan selesai di kanan pintu .

Berikut ini ringkasan relief yang ada di Candi Borobudur:
1) Bagian Kaki Candi asli terdapat relief Karmawibhangga (terdiri dari 160 panel )
2) Pada Tingkat 1 dinding terdapat relief: lalitawistara dan jataka/awadana (masing-masing 120 panel = total 240 panel)
Pada Tingkat 1 langkan terdapat relief : jataka (372 panel dan 128 panel)
3) Pada Tingkat 2, dinding terdapat relief Gandawyuha (128 panel)
Pada tingkat 2 langkan terdapat relief jataka (100 panel)
4) Pada tingkat 3, dinding terdapat relief Gandawyuha (88 panel)
Pada Tingkat 3 langkan terdapat relief Gandawyuha (88 Panel)
5) Pada Tingkat 4, dinding terdapat relief Gandawyuha (84 panel)
Pada Tingkat 4, langkan terdapat relief Gandawyuha (72 panel)
TOTAL relief : 1,460 panel

RELIEF KARMAWIBHANGGA:
Relief ini diketemukan secara tidak sengaja oleh Yzerman pada tahun 1885. Dilakukan usaha pembongkaran kaki asli candi ini pada tahun 1890 untuk mendokumentasikan seluruh panel relief Karmawibhangga. Tahun 1891, seorang ahli foto Indonesia, Kasijan Cephas diberi tugas untuk mendokumentasikan relief-relief tersebut. Kini seluruh relief Karmawibhangga telah kembali terkubur kecuali pada bagian sudut tenggara yang dinampakkan sebagai bukti adanya relief Karmawibhangga.

Relief Karmawibhangga terdapat pada bagian kamadhatu yang melambangkan nafsu manusia. Karmawibhangga ialah teks Buddha yang menggambarkan hukum karma akibat perbuatan baik ataupun buruk. Relief 1 hingga 117 menggambarkan tingkah laku yang menyimpang. Relief 110-160 menggambarkan akibat dari perbuatan.

Secara keseluruhan relief ini menggambarkan lingkaran samsara yaitu lahir, hidup, mati manusia, lingkaran itu tidak pernah berakhir dan dapat diakhiri dengan menuju ke kesempurnaan. Foto hasil dokumentasi relief ini dapat dilihat di Museum Karmawibhangga yang terletak di sebelah utara Candi Borobudur.

 LALITA VISTARA
Lalitawistara merupakan teks berbahasa Sanskerta yang menceritakan mengenai kehidupan Sang Buddha. Lalitawistara berarti sandiwara. Hidup Buddha dianggap sebagai sandiwara dilakukan oleh Buddha , dialami dan sungguh sungguh terjadi.

Sang Buddha lahir sebagai Pangeran Sidharta, di hutan Lumbini dekat Kapilawastu de Nepal. Tak lama setelah melahirkan, ibunda Sidharta, Maya meninggal. Seseorang meramalkan bahwa Pangeran Sidharta kelak akan menguasai alam semesta atau seorang Buddha. Raja Sudhodana, ayah Pangeran Sidharta mengharapkan anaknya meneruskan tahtanya, sehingga beliau mencegah anaknya untuk berhubungan dengan dunia luar. Akan tetapi, meski telah dicegah dari dunia luar, Pangeran Sidharta sempat bertemu dengan 3 samsara dalam bentuk kesakitan, usia lanjut dan kematian. Pertemuan selanjutnya, yang ke 4, Sidharta bertemu dengan seorang biarawan. Setelah pertemuan itu Sidharta memutuskan untuk memilih menuju pembebasan dari samsara. Sidharta melakukan pertapaan.  Ketika Sidharta sedang bertapa di bawah pohon ara suci atau pohon boddhi, dia diganggu oleh Mara, yang menggodanya dengan berbagai cara untuk membatalkan tapanya. Namun Sidharta tak menghiraukannya dan menjadi semakin kusyuk. Dalam semedinya Sidharta melihat alam semesta sebagai system hokum. Hingga akhirnya Sidharta mendapatkan pencerahan. Sidharta menjadi Buddha, sebelumnya ia memakai nama Boddhisatva.  Sang Buddha kemudian memilih 5 pengikut dan menyampaikan kotbah pertamanya di Taman Kijang Sarnath, dekat Benares.

Panel relief Lalitawistara berjumlah 120 terletak di dinding lorong pertama deret atas. Dalam panel relief ini mewakili teks Lalitawistara mengenai kehidupan Buddha di dunia. Adegannya diawali sejak Buddha di Surga memutuskan untuk turun ke dunia dan berinkarnasi sebagai manusia biasa hingga menyampaikan kotbah pertamanya.

to be continued : GANDAVYUHA AND JATAKA Relied on Candi Brobudur Part 5

http://ki-demang.com/relief/
http://id.wikipedia.org/